Welcome!!!

Hi everyone,

Welcome to my blog. I am not an artist or expert of crafts, but just a simple and an ordinary woman who loves crafts and crafting. Enjoy your visit and let us share ideas. Crafting is fun when we do it together with RESPECT AND TOLERANCE.

Happy crafting
Hany Von G

Wednesday, February 5, 2014

Kartu resep dari label produk




Ketika menunggu seorang kenalan di kantin sebuah rumah sakit, saya melihat sebuah meja dengan berbagai macam brosur dan informasi tentang produk sebuah perkebunan organik komersial. Saya lihat ada satu label berbentuk kartu pos yang gambarnya menarik sekali dengan dominasi warna hijau segar. Saya ambil satu dengan pikiran mungkin suatu saat diperlukan.
Secara kebetulan seorang teman yang mengkoordinir kegiatan prakarya dari bahan kertas mengajak untuk membuat kartu dengan memanfaatkan labek produk. Terpikir untuk memanfaatkan label yang saya ambil dari rumah sakit itu. Saya tidak mempunyai ide tentang model kartu bagaimana yang akan saya buat. Setelah beberapa hari tertunda, terpikir untuk membuat kartu ucapan dengan resep di bagian depannya. Kreasi ini di ilhami oleh kartupos jenis resep yang sekarang juga banyak di produksi.



 
 
Kartu seperti ini mempunyai manfaat ganda, selain sebagai kartu ucapan, kita juga bias berbagi resep andalan dengan teman yang kita kirimi kartu tersebut.
Bagaimana menurut teman-teman?
 
***
Be creative, be yourself and the satisfaction is there for you
Happy crafting everyone
Hany Von G. Soewito
 
***

 

Saturday, January 18, 2014

Mengamati Burung

Ketika musim dingin seperti sekarang ini, sekolah-sekolah di Amerika biasanya mengadakan kegiatan musim dingin atau biasa disebut Winter Activities. Aktifitas ini bertujuan agar kami semua bisa mendapat hiburan karena selama musim ini kami terkungkung didalam ruangan saja atau lebih banyak tinggal didalam ruangan yang hangat. Keadaan ini sering mengakibatkan suasana hati yang kurang nyaman biasa disebut winter blues atau cabin fever.

Disekolah tempat saya bekerja, kegiatan musim dingin yang kami adakan adalah ski, yoga, kegiatan social dan masih banyak lagi. Seluruh sekolah harus berpaetisipasi pada kegiatan ini kecuali murid taman kanak-kanak. Mereka boleh memilih untuk ikut atau tidak dan hanya terbatas pada kegiatan ski saja. Mereka yang memutuskan untuk ikut harus didampingi oleh orang tua atau wali. Sedang yang memutuskan untuk tidak ikut, tinggal disekolah mengerjakan kegiatan lain. Kegiatan ini diadakan selama 6 minggu berturut-turut setiap hari Jumat, hari terakhir sekolah dalam 1 minggu karena hari jumat biasanya disebut Fun Friday.

Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan di area ski karena saya harus tinggal disekolah bersama mereka yang tidak ikut. Jumat pertama kemarin, salah satu kegiatan yang kami lalukan disekolah adalah Science Observation.


Dalam kegiatan ini murid-murid membuat binocular dari bekas gulungan tissue yang mereka hias dengan hiasan yang biasa dipakai untuk prakarya kertas, kemudian mereka pergi ke jendela untuk mengamati burung-burung yang sedang asyik makan di secret garden kami (taman kecil disamping kelas kami).




Sebagian besar burung-burung sudah berpindah menjelang musim dingin tiba. Kita bisa melihat sekelompok burung terbang diudara menuju daerah selatan yang lebih hangat. Namun ada juga jenis burung yang mampu bertahan pada temperatur yang sangat dingin sekalipun.
Orang Amerika punya kebiasaan menarik yaitu memberi makan burung-burung liar yang datang ke halaman rumah mereka tanpa keinginan menangkap burung-burung itu, sehingga burung-burungpun tak segan dating bertandang. Saya suka dengan kebiasan ini. Sebagai balasan, burung-burung itu akan memberi kita kicauan yang merdu sebagai hiburan. Saya juga sangat menikmati suara kicau burung ini.



Murid-murid menyukai kegiatan ini dan sangat serius mencatat jumlah burung yang mereka lihat melalui binocular buatan mereka sendiri pada jurnal yang kami sediakan dan mereka sendiri yang menghias dan memberi gambar pada jurnal mereka.



Ini juga untuk mengajar dan melatih mereka untuk menghitung menggunakan tally marks begini disini biasa disebut.
membuat binocularnyapun sangat mudah, hanya 2 bekas gulungan tissue yang digabung menjadi satu dengan staple pada bagian tengah, kemudian di samping kiri kanannya di lubangi dengan pelubang kertas untuk mengait tali sebagai gantungan. Selanjutnya dihias dengan hiasan apa saja.

Mudah-mudahan cerita ini bisa memberi inspirasi kepada teman-teman yang sudah berputra sebagai pilihan kegiatan dirumah.

***
Be creative, be yourself and the satisfaction is there for you
Happy crafting everyone
Hany Von G. Soewito
***

Thursday, January 2, 2014

Post Crossing

Masih seputar cerita tentang korespondensi jaman dulu, kira-kira seminggu atau 2 minggu yang lalu, saya melihat sebuah postingan dari seorang anggota grup, kerajinan di sebuah media social. Disana mbak yang bersangkutan memperlihatkan karyanya berupa kartu pos yang akan dikirim kepada partnernya di sebuah grup tukar menukar kartu pos. Saya jadi diingatkan kembali tentang keanggotaan saya di grup tersebut yang selama ini tidak aktif atau bahkan terhenti.

Nama grup tersebut adalah post crossing. Bagi pencinta kartu pos seperti saya, sangat membahagiakan ada wadah untuk saling berinteraksi dengan sesame kolektor kartu pos.

Saya pikir memang keanggotaan saya sudah ditiadakan oleh para pengurus grup tersebut, saya coba untuk mendaftar kembali, ternyata pendaftaran saya ditolak karena alamat email dan data yang saya masukkan sudah dipakai oleh orang lain. Aduh ... saya malas kalau harus bikin alamat email baru lagi. Tapi saya coba juga seperti yang di sarankan di situs tersebut. Akhirnya, memang saya bisa masuk kembali, hanya status keanggotaan saya dinyatakan tidak aktif.

Saya mulai bersemangat kembali. Langsung esok harinya, saya pergi ke toko dan membeli setumpuk kartu pos. Saya hanya diijinkan untuk mengirim 6 lembar kartu pos sampai semua kartu pos yang saya kirim diterima oleh penerima.

Saya memang pencinta dan pengumpul kartu pos sejak masih di sekolah lanjutan tingkat pertama (SMP). Selain karena gambar yang ditampilkan memang indah, saya juga suka berangan-angan kapan saya bisa melihat tempat-tempat itu. Saya lahir dan besar di kota kecil, tapi saya selalu ingin melihat dunia. Itu sebabnya saya suka korespondensi. Sampai sekarang saya tetap menikmati korepondensi jaman dulu dengan surat siput yang berperangko. Masih jelas dalam ingatan saya ketika masih kuliah dulu, kami tiap hari menunggu pak Di (pak pos kami) datang dengan harap-harap cemas akan dapat surat.

Melalui kegiatan ini,  saya bahkan tersambung kembali dengan seorang kenalan sesama pencinta kartu pos asal Indonesia yang bermukim di Belgia. Mas ini ternyata sangat aktif dan menempati rangking tinggi dalam hal pengumpulan kartu pos melalui banyaknya kartu pos yang diterima dan dikirim. Dan ironisnya, si mas mengaku bahwa dia tahu tentang grup ini melalui postingan saya di sebuah media social lain beberapa tahun lalu, tapi justru dia yang melesat disbanding saya ...hahaha ... 

Ini adalah kartu-kartu pos yang saya kirim kemarin sebagai kloter pertama di penutup tahun 2013 kemarin pada tanggal 31 Desember 2013. Setiap anggota memang mencantumkan jenis kartu pos yang disuka. Orang-orang yang harus saya kirimi memiliki kesuakaan berbeda, tidak semuanya saya dapat memenuhinya  seperti musem-museum dari berbagai negara yang saya tidak punya, saya menggantinya dengan gambar gunung bertekstur wajah di state kami yang merupakan monument alam. Sebagian lainnya bisa saya penuhi seperti gambar binatang yang saya kirim adalah binatang khas daerah Amerika Utara Mouse, suasana natal dan kartu pos khusus dari penulis buku cerita anak Eric Carle.


Untuk teman-teman yang juga suka mengumpulkan kartu pos, mungkin bisa mencoba untuk mendaftar.
Kalo ada yang inging bertukar kartu pos dengan saya, silahkan kirim email. Yang saya suka adalah kartu pos bergambar:
1. Makanan (pasar, sesajen seperti di Bali)
2. Kuno
3. Handmade yang vintage, Victorian, Shabby chic style
4. Hitam putih


***
Be creative, be yourself and the satisfaction is there for you
Happy crafting everyone
Hany Von G. Soewito
***

 kembali.

Monday, December 30, 2013

Surat-surat dari kantor istimewa

Dulu alm. bapak dan ibu saya berlangganan beberapa majalah untuk beliau berdua dan mjalah anak-anak dan remaja untuk kami. Di salah satu majalah-majalah tersebut, terdapat artikel tentang seseorang yang mempunyai hobi mengoleksi tanda tangan tokoh-tokoh dunia.
Pengalaman orang tersebut memberi saya sebuah motivasi untuk melakukan hal yang sama. Tidak untuk mengoleksi tanda tangan, tapi sekedar mendapat surat dari tokoh bersangkutan.

Pilihan pertama saya, jatuh pada perdana mentri Inggris yang saat itu, pada tahun 1984 dijabat oleh PM. Margaret Thatcher. Walaupun waktu itu saya sudah tingkat SMA, saya belum percaya diri untuk mengarang surat sendiri dalam bahasa Inggris. Alm. bapak saya tercinta yang sangat berbakat dalam bidang bahasa, membantu saya menuliskan surat tersebut.
Tanpa harapan yang tinggi, saya kirim juga surat pertama saya. Tak berapa lama menunggu saya mendapat balasan dari ibu perdana mentri melalui sekretaris beliau dan dikirim oleh kedutaan Inggris di Jakarta. Tapi kertas surat yang dipakai memakai stempel kantor perdana mentri Inggris. Betapa senangnya, kala itu ketika semua bentuk korespondensi masih memakai surat biasa.


 
Setelah sukses surat pertama, saya ingin mencoba lagi keberuntungan saya. Kali ini pilihan saya jatuh pada anggota kerajaan Belanda, Putri Juliana. Sekali lagi saya beruntung, karena surat saya kembali mendapat balasan walaupun tidak langsung di balas oleh Putri Juliana, tapi oleh sekretaris beliau.  
 
 



Saya masih mencoba lagi untuk berkirim surat pada satu tokoh lagi, yaitu presiden Amerika serikat saat itu, President Reagen. Tapi malang, keberuntungan tidak berpihak pada saya saat itu. Surat saya tidak medapat balasan :(
Setelah itu karir saya sebagai pengirim surat pada tokoh dunia berakhir. Sebenarnya tidak juga, karena pada masa jabatan pertama Prsident Obama, saya juga mengirim kartu pada beliau. Kali ini saya tidak mengharap apa-apa karena saya memang ingin mengirim saja kartu buat beliau.

***
Be creative, be yourself and
the satisfaction is there for you
Happy crafting everyone
Hany Von G. Soewito
 
***


 
 
 
 

Salju di tempat tinggal saya

Kami, saya dan suami, tinggal di kota kecil bernama Claremont, di Negara bagian New Hampshire, USA. 3 jam berkendaraan dari kota kami ke arah utara adalah kota Montreal di Negara Canada. Karena letaknya yang berdekatan dengan Canada yang dingin itu karena Canada lebih dekat dengan kutub utara, maka kota kamipun termasuk salah satu daerah yang kena imbas dingin pada musim salju. Ketika salju turun deras seperti hujan, di sini mereka menyebutnya badai salju (snow storm). Kira-kira 2 minggu sebelum natal, kami mendapat badai salju yang pertama. Cukup deras sehingga pada keesokan harinya ketika salju berhenti turun, ketinggiannya mencapai lutut. Ini suasana dan keadaan kota kami setelah turun salju.
 
***
 
 Tengah kota Claremont (gedung Bank
Claremont Savings Bank)
 
 Alun-alun kota yang biasa disebut common
 
 Kantor pos Claremont
 
 Gedung Claremont opera house
 
 Jalan belakang menuju tempat kerja saya
 
 Jalan belakang menuju tempat kerja saya
 
 Jalan belakang menuju tempat kerja saya
 
 
Pada hari natal, kami berjanji untuk menemui seorang kenalan orang Indonesia yang bermukim di Australia beserta keluarganya. Mereka khusus datang ke Amerika untuk melihat dan menikmati salju karena di propinsi dimana mereka tinggal di Australia (Sydney) tidak ada saljunya. Katanya suhunya terdingin disana pada musim salju hanya 10 C. Dalam perjalanan menuju ibukota Negara bagian kami, Concord dimana kami akan bertemu, kami melewati kota tetangga Newport. Karena suhu yang sangat rendah, air sungai di kota Newport ini beku menjadi es. Biasanya jika ketebalan es mencapai angka tertentu, orang-orang diijin untuk bermain ice skating di sungai yang beku seperti ini.
 


Kemarin sore, kami mendapat badai salju lagi disertai hujan yang menyebabkan salju basah. Salju semacam ini lebih berat dari salju kering seperti serbuk. Salju yang turun sejak sore hingga pagi tadi menutup kembali permukaan Tanah yang sebelumnya telah nampak kembali. Foto-foto ini menunjukkan salju yang terkumpul membentuk gunungan salju di tempat parker toko serba ada Walmart di kota kami tadi pagi.



Bangun pagi tadi, ketika membuka jendela,  inilah pemandangan yang terlihat diluar. Salju yang menutup dahan-dahan pohon.


Kami harus bekerja keras untuk membersihkan salju di jalan mobil kami. Seorang tetangga yang mempunyai alat keruk salju besar, biasa menolong keluarga-keluarga di lingkungan tempat tinggal kami termasuk saya dan suami dengan imbalan sekedarnya. Namun karena suhu yang rendah, air hujan yang bercampur salju telah menjadi es, sehingga agak susah untuk keruk. Saya dan suami kerja bakti mencangkul es-es tersebut supaya jalan mobil kami tidak licin karena untuk seminggu ini suhu akan semakin turun. Setelah penat dan kedinginan bekerja di luar, kami menikmati sedapnya segelas coklat panas.

 
***
Be creative, be yourself and the satisfaction is there for you
Happy crafting everyone
Hany Von G. Soewito
 
***
 
 
 

Wednesday, December 25, 2013

Memanfaatkan Gulungan Tissue Bekas Sebagai Bungkus Kado

 
Ide pemanfaatan gulungan tissue bekas ini bukan ide saya. Saya mendapatkannya dari suatu situs di internet. Yang saya lakukan ini adalah memodifikasi dan mengembangkan ide tersebut dengan cara menghiasnya supaya kelihatan lebih menarik.
 
***
 
Alat-alat :
gunting
lem tembak
lem kertas
 
 
Bahan-bahan :
gulungan tissue bekas
kertas pembungkus coklat
kertas karton untuk membuat tag
tali rafia
bunga felt 
 
 
 Bahan-bahan
 
 Tekuk kedalam kedua ujung
gulungan tissue
 
 Lapis dengan kertas pembungkus
(gunakan lem kertas untuk
menempel) 
 
 Ikat dengan rafia
 
 Sebelum disimpul mati,
selipkan tag
 
 Pasang hiasan bunga felt dengan
cara ditempelmenggunakan
lem tembak
 
 
Cara Membuat Bunga Felt
 
Selembar kain felt elebar kurang lebih 0.5 cm
2 lembar daun dari bahan felt
manik
 

Gulung felt kearah dalam sehingga
berbentuk seperti diatas. Lem bebe-
rapa bagian ketika menggulung dengan
lem tembak. Terakhir pasang manik
diatas dengan lem tembak 
 

 Begini jadinya
 
 
Membuat tag sederhana
Gunting karton dengan ukuran disesuaikan dengan besar gulungan tissue.
Potong bentuk persegi panjang, gunting keempat ujungnya.
 
 
***
Be creative, be yourself and the satisfaction is there for you
Happy Crafting Everyone
Hany Von G. Soewito
***
 
 
 
 


Sunday, November 17, 2013

Punch Needle



Ketika jalan-jalan dan menikmati kreasi-kreasi cantik dari para pencinta kerajinan dari blog ke blog, perhatian saya terhenti pada salah satunya, saya pikir menarik sekali dan imut. Tiba-tiba saya tertarik untuk mencobanya juga, tapi saya lupa nama jenis kerajinan dan alatnya. Sayangnya juga si penulis blog tidak menjelaskan jenis kerajinannya dan alatnya. Saya ingat jaman dulu ketika saya masih di sekolah dasar, almarhum bapak saya tercinta pernah punya alat tersebut dan mencoba menggunakannya kembali, tapi saya lupa menanyakan pada beliau. Setelah tanya pada beberapa teman ngobrol soal kerajinan, Elvira Threeyama dan Agnes Wijayanti di India, terjawablah pertanyaan saya. Langsung saya google dan minta tolong pada sopir pribadi saya a.k.a suami untuk menelepon toko kerajinan langganan saya untuk menanyakan ketersediaan alat tersebut sehingga kami bisa langsung berangkat ke toko sepulang saya bekerja untuk membeli alatnya. Awalnya pegawai toko bilang mereka tidak punya dan dia tidak tahu tentang alat tersebut. Suami saya langsung telpon customer service pusat, mereka mengeceknya di stock ... Alhamdulillah ternyata ada 3 di stock ... wuih ... bernafas lega! Sore harinya langsung saya coba, saya benar-benar gak sabar :)

Seperti ini alatnya, 1 set terdiri dari badan, jarum dan penutupnya serta alat untuk memasukkan jarum (threader).

 
 
Pada kemasan dijelaskan cara menggunakannya. Dibutuhkan sebuah pemidangan dalam penggunaannya untuk mempermudah.
 
Langkah-langkahnya :
Siapkan kain, gambar motif yang akan kita sulam (tersedia juga motif-motif yang bisa kita beli. Saya lebih suka membuat sendiri sesuai dengan keinginan saya).
Pasang pemidangan.
Kemudian benang dimasukkan dengan menggunakan alat bantu (threader).
Mulai menyulam pada motif yang telah kita gambar sebelumnya. Tempat dimana kita menyulam akan menjadi bagian belakang dari hasil sulaman.
 
 


 
Mudah dan menarik kan ????
 
****
Be creative, be yourself and the satisfaction is there for you
Happy crafting everyone
Hany Von G. Soewito
***